September 25, 2012

IMAN YANG LEMAH, IMAN YANG TEGUH DAN IMAN YANG BERKUASA (PART I)


IMAN YANG LEMAH DAN IMAN YANG TEGUH



Kita harus ingat, bahwa sekalipun semua IMAN pada dasarnya sama, namun tingkatannya tidak sama. Tingkatan IMAN seperti tingkatan kedalaman sebuah sungai, kadang tinggi, kadang rendah, tergantung situasi yang ada.


           Tingkatan IMAN yang pertama adalah :

      - IMAN yang Lemah :
Itulah tingkatan IMAN yang tampaknya sering dimiliki Murid-Murid Yesus; itulah sebabnya Yesus berkata, “Kamu yang kurang percaya” (Matius 8:26). Iman jenis ini seperti pohon yang masih muda, yang memerlukan banyak perawatan dan perhatian. Badai kecil saja sudah dapat melengkungkan atau mematahkannya. Hal ini tidak tergantung pada urutan waktu, karena mereka yang sudah lama menjadi murid Kristus dapat juga mengalami hal ini sama seperti mereka yang baru.
Penyebabnya adalah dua hal :
1. Kurangnya pemahaman tentang keberadaan Allah. 
2. Kurangnya komitmen terhadap apa yang sedang Dia lakukan.

Murid-murid Yesus tidak kurang komitmen, tetapi kurang pengertian; karena itulah IMAN mereka lemah. Sebaliknya, orang yang lemah imannya yang disebutkan Paulus (Roma 14:1), memiliki komitmen yang belum dewasa kepada Allah.


Tingkatan IMAN yang kedua adalah:

      -  IMAN yang Teguh :
Itulah Iman yang ditopang Allah. Sebagai contoh, Allah secara khusus berbicara kepada Abraham bahwa walaupun ia belum punya anak, namun ia akan menjadi ayah dari banyak bangsa. Saat Allah menopang “pengharapan” Abraham, Iman-nya menjadi kuat dan teguh; ia tidak lagi mempunyai iman yang “lemah” (Roma 4: 18-19). Iman yang teguh berarti aku tidak lagi ragu-ragu karena Allah telah mengatakan bahwa hal itu pasti terjadi.
Kita dapat berusaha untuk menguatkan iman yang lemah, namun tidak ada yang dapat kulakukan untuk iman yang teguh; dalam arti yang sesungguhnya, iman yang teguh adalah “pemberian Allah” (Efesus 2:8). Artinya Allah memiliki kedaulatan untuk memilih melakukan sesuatu dan Ia dengan penuh kemurahan mengikut sertakan aku dalam pekerjaan ini. Ketika Dia melakukannya, aku bersuka cita.
Suka cita iman ku, seperti yang dimiliki Maria, dengan cepat tersebar dan orang lain bersuka cita juga (Lukas 1:44-46).
Tuhan, pimpinlah kami kepada iman dalam kepastian dan sukacitanya!.


*Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu (Mazmur 56:4)*