September 25, 2012

IMAN YANG LEMAH, IMAN YANG TEGUH DAN IMAN YANG BERKUASA (PART II)


*IMAN YANG BERKUASA*



Tingkatan IMAN yang ketiga, setelah IMAN yang LEMAH dan IMAN yang TEGUH, adalah :

-          Iman yang berkuasa :
Tingkatan iman ini, yang berhubungan erat dengan doa syafaat, bisa dikatakan merupakan posisi dimana Allah siap melayani kita. Menurut REES HOWELLS, pendiri sekolah Alkitab di Wales, posisi ini mempunyai tujuan untuk “menang”, dan setelah itu tidak ada lagi doa yang perlu dinaikan. Untuk mencapai posisi itu, Allah memberi kita semacam kekuasaan penuh untuk meminta apa saja yang kita inginkan di wilayah kemenangan kita.


Contoh Iman seperti itu adalah doa syafaat Musa untuk bangsa Israel (Keluaran 32: 7-14). Karena Israel berdosa dalam hal pembuatan patung anak lembu emas, Allah bermaksud menghancurkan bangsa tersebut dan menciptakan bangsa baru dari keturunan Musa.

Tetapi Musa berdoa dengan penuh kepedihan untuk bangsanya dan mencapai tempat dimana Allah menempatkan diri-Nya ditangan Musa, untuk melakukan apapun yang diminta oleh Musa.

Posisi yang tepat sudah dicapai, kuasa telah diperoleh, maka kunci pun diberikan. Kemudian Musa , dengan menggunakan wewenangnya yang baru, memohon agar Allah memulihkan bangsa Israel sehingga kembali mendapatkan kasih sayang dan kasih karunia-Nya. Allah melakukannya demi Musa.

Banyak contoh mengenai hal ini: kuasa Petrus terhadap orang-orang bukan Yahudi, kuasa para murid Yesus atas roh-roh jahat, kuasa Paulus atas para penguasa, dan kuasa Elia atas musuh-musuhnya.
Hanya orang yang dipercaya diberi kuasa seperti itu, dan kuasa itu untuk satu wilayah khusus saja. Orang seperti itu adalah perpanjangan jari dan tangan Allah di bumi.

Pada anak tangga yang paling bawah dari tangga iman, tertulis kata-kata “Naiklah setinggi mungkin”. Allah menguatkan aku untuk menjadi orang yang sungguh mempercayai-Nya, dan bertumbuh semakin kuat dalam ketaatan, sehingga Ia dapat mempercayakan kepadaku fungsi-fungsi yang penuh tanggung jawab dalam rencana kekal-Nya yang besar itu.
Bila Dia menilik balatentara-Nya untuk mencari orang-orang yang bertanggung jawab, semoga Dia mendapati aku seperti Abraham, “Diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah”. (Roma 4:20).



*Kamukah yang mengajukan pertanyaan kepada-Ku mengenai anak-anak’Ku, atau memberi perintah kepada-Ku mengenai yang dibuat tangan-Ku?”. (Yesaya 45:11).